Rahasia Sukses Menjalankan Mini Kompetisi Konstruksi

Bidang konstruksi selalu menjadi sektor yang paling menantang dalam dunia pengadaan barang/jasa pemerintah. Kompleksitas pekerjaan, nilai anggaran yang besar, dan tanggung jawab yang tinggi membuat setiap tahapnya harus dilaksanakan dengan penuh kehati-hatian. Kini, dengan hadirnya sistem Mini Kompetisi di E-Katalog Versi 6, pekerjaan konstruksi pun mulai bertransformasi menuju proses yang lebih cepat, transparan, dan berbasis teknologi digital.

Namun, menjalankan Mini Kompetisi untuk pekerjaan konstruksi tidak sama dengan pengadaan barang biasa. Ia membutuhkan strategi, pemahaman teknis, serta penguasaan sistem yang baik agar kompetisi berjalan efektif dan menghasilkan penyedia yang benar-benar kompeten.

Artikel ini akan mengulas dengan bahasa yang mudah dipahami tentang rahasia sukses menjalankan Mini Kompetisi Konstruksi, mulai dari tahap perencanaan, penyusunan paket, hingga penetapan pemenang. Semua disusun berdasarkan praktik terbaik dan regulasi resmi dari LKPP.

Mengapa Mini Kompetisi Konstruksi Diperlukan

Selama bertahun-tahun, pengadaan jasa konstruksi di pemerintahan identik dengan proses yang panjang. Mulai dari perencanaan, tender manual, klarifikasi teknis, hingga penetapan pemenang, sering kali memakan waktu berbulan-bulan.

Melalui kebijakan digitalisasi pengadaan, LKPP memperkenalkan sistem Mini Kompetisi di E-Katalog sebagai solusi agar proses tersebut menjadi lebih efisien tanpa mengurangi prinsip kehati-hatian dan transparansi.

Mini Kompetisi Konstruksi memungkinkan PPK untuk memilih penyedia dari etalase jasa konstruksi yang sudah terverifikasi oleh sistem. Ketika ada lebih dari satu penyedia dalam etalase, sistem secara otomatis membuka kompetisi digital agar semua pihak dapat bersaing secara sehat.

Dengan metode ini, pengadaan konstruksi yang dulu bisa memakan waktu lama kini bisa diselesaikan hanya dalam hitungan hari, asalkan seluruh dokumen dan paket disusun dengan benar sejak awal.

Perbedaan Mini Kompetisi Konstruksi dan Pengadaan Barang

Mini Kompetisi untuk konstruksi memiliki karakteristik tersendiri yang membedakannya dari pengadaan barang umum.

Dalam pengadaan barang, spesifikasi teknis biasanya sudah baku dan bisa diukur secara jelas. Barang seperti laptop, printer, atau kendaraan memiliki standar yang seragam dan bisa dibandingkan langsung antar-penyedia.

Sedangkan dalam pengadaan konstruksi, setiap pekerjaan memiliki karakteristik unik — berbeda lokasi, kondisi tanah, desain, dan metode kerja. Karena itu, penyusunan spesifikasi, volume pekerjaan, dan jadwal pelaksanaan menjadi aspek paling krusial.

Selain itu, hasil akhir pengadaan konstruksi tidak bisa diserahkan dalam bentuk fisik sederhana seperti barang. Ia harus melewati tahapan pemeriksaan teknis, pengujian mutu, dan serah terima yang kompleks. Maka dari itu, menjalankan Mini Kompetisi untuk pekerjaan konstruksi membutuhkan pendekatan yang lebih mendalam dan disiplin teknis yang tinggi.

Dasar Hukum Pelaksanaan Mini Kompetisi Konstruksi

Pelaksanaan Mini Kompetisi untuk pekerjaan konstruksi mengacu pada Perpres Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, sebagaimana telah diubah dengan Perpres Nomor 12 Tahun 2021. Kedua regulasi tersebut menegaskan prinsip efisiensi, efektivitas, transparansi, dan persaingan sehat dalam setiap bentuk pengadaan.

Secara lebih teknis, Keputusan Kepala LKPP Nomor 93 Tahun 2025 menjadi dasar pelaksanaan Mini Kompetisi di E-Katalog. Dokumen ini menyebutkan bahwa pekerjaan konstruksi dapat dilaksanakan melalui Mini Kompetisi apabila terdapat lebih dari satu penyedia dalam etalase katalog jasa konstruksi.

Dalam kebijakan ini juga disebutkan bahwa paket konstruksi dalam Mini Kompetisi dibatasi maksimal 50 item pekerjaan, agar sistem tetap stabil dan proses kompetisi dapat berjalan dengan efisien. Ketentuan ini sekaligus mendorong PPK untuk menyusun paket secara terfokus dan tidak berlebihan.

Persiapan Sebelum Membuat Paket Konstruksi

Rahasia pertama dalam menjalankan Mini Kompetisi Konstruksi yang sukses adalah perencanaan yang matang. Sebelum membuat paket di E-Katalog, PPK wajib memastikan bahwa dokumen perencanaan teknis sudah lengkap.

Dokumen seperti Kerangka Acuan Kerja (KAK), gambar desain, Rencana Anggaran Biaya (RAB), dan spesifikasi teknis harus disiapkan dengan benar. Jika dokumen ini belum siap, kompetisi bisa berakhir dengan penawaran yang tidak relevan atau bahkan gagal kontrak di kemudian hari.

Selain dokumen teknis, PPK juga perlu memverifikasi ketersediaan penyedia dalam etalase konstruksi terkait. Bila hanya ada satu penyedia yang memenuhi kriteria, Mini Kompetisi tidak dapat dijalankan. Dengan memastikan ketersediaan penyedia lebih dari satu, PPK menjamin bahwa proses yang dilakukan memang kompetitif.

Menyusun Spesifikasi Teknis Konstruksi di E-Katalog

Spesifikasi teknis dalam paket konstruksi memiliki peran vital. Ia menjelaskan secara rinci pekerjaan yang harus dilakukan oleh penyedia, termasuk metode kerja, jenis material, standar mutu, serta waktu pelaksanaan.

Dalam konteks Mini Kompetisi, penyusunan spesifikasi harus dilakukan dengan hati-hati. Sistem E-Katalog memungkinkan PPK menambahkan keterangan teknis tambahan, tetapi deskripsi tersebut tidak boleh mengarah pada vendor tertentu. Misalnya, tidak boleh mencantumkan merek material tertentu kecuali dalam kondisi sangat spesifik dan dapat dibenarkan secara teknis.

Spesifikasi yang terlalu sempit bisa membatasi partisipasi penyedia. Sebaliknya, spesifikasi yang terlalu umum bisa menghasilkan penawaran yang tidak seragam dan sulit dibandingkan. Kuncinya adalah keseimbangan antara ketepatan teknis dan keterbukaan kompetisi.

Menentukan Nilai Pagu dan Struktur Pembiayaan

Setiap paket konstruksi harus disertai nilai pagu yang realistis. Nilai pagu tidak boleh ditentukan sembarangan, tetapi harus didasarkan pada hasil perencanaan teknis dan analisis harga pasar.

Dalam Mini Kompetisi, sistem akan menampilkan nilai pagu sebagai acuan bagi penyedia dalam memberikan penawaran. Jika pagu terlalu tinggi, potensi efisiensi anggaran menurun. Namun jika terlalu rendah, penyedia enggan berpartisipasi.

PPK juga perlu memastikan bahwa struktur pembiayaan jelas — apakah menggunakan APBN, APBD, atau dana lainnya. Kesesuaian antara sumber dana dan jenis pekerjaan akan mempermudah proses audit dan pelaporan setelah proyek selesai.

Menentukan Jadwal dan Durasi Penawaran

Durasi penawaran dalam Mini Kompetisi Konstruksi harus mempertimbangkan kompleksitas pekerjaan. Karena pekerjaan konstruksi melibatkan banyak variabel, waktu penawaran sebaiknya tidak terlalu singkat.

Berdasarkan pengalaman pelaksanaan di berbagai instansi, durasi ideal untuk pekerjaan konstruksi adalah antara 5 hingga 7 hari kerja. Durasi ini memberikan waktu cukup bagi penyedia untuk mempelajari dokumen, menghitung biaya material, dan menyusun penawaran dengan cermat.

Menetapkan durasi terlalu singkat bisa mengurangi partisipasi penyedia, sementara durasi terlalu lama dapat memperlambat realisasi proyek. PPK perlu menyeimbangkan keduanya dengan tetap mengedepankan prinsip efisiensi.

Menentukan Kualifikasi Penyedia

Kunci sukses Mini Kompetisi Konstruksi juga terletak pada penentuan kualifikasi penyedia. Sistem E-Katalog secara otomatis hanya menampilkan penyedia yang sudah terverifikasi oleh LKPP, namun PPK tetap dapat menambahkan persyaratan tambahan.

Kualifikasi penyedia konstruksi biasanya mencakup kepemilikan Sertifikat Badan Usaha (SBU), pengalaman pekerjaan sejenis, serta kemampuan keuangan yang memadai. PPK harus memastikan bahwa kualifikasi ini relevan dan tidak diskriminatif.

Dengan menentukan kualifikasi yang tepat, PPK bisa memastikan bahwa penyedia yang ikut kompetisi memang memiliki kompetensi teknis dan kapasitas yang sesuai dengan kebutuhan proyek.

Rahasia Efisiensi: Gunakan Prinsip Non-Itemized

Salah satu rahasia sukses dalam menjalankan Mini Kompetisi Konstruksi adalah memilih metode non-itemized saat membuat paket.

Dalam metode non-itemized, penyedia diwajibkan menawar seluruh item pekerjaan dalam satu paket secara utuh. Ini sangat sesuai untuk pekerjaan konstruksi, di mana seluruh komponen saling terkait dan tidak dapat dipisahkan.

Sebaliknya, metode itemized — di mana penyedia dapat menawar sebagian item saja — tidak disarankan untuk proyek konstruksi, karena berpotensi menimbulkan masalah koordinasi antarpenyedia.

Dengan non-itemized, seluruh pekerjaan berada di bawah tanggung jawab satu penyedia, sehingga pengawasan, pengendalian mutu, dan penyerahan hasil menjadi lebih mudah dan konsisten.

Peran Dokumen Gambar dan Volume dalam Kompetisi

Dalam Mini Kompetisi Konstruksi, dokumen gambar dan volume pekerjaan (Bill of Quantity atau BoQ) menjadi faktor penting yang tidak boleh diabaikan.

Penyedia menggunakan kedua dokumen ini untuk menghitung harga penawaran dan merancang metode pelaksanaan. Jika gambar kerja tidak jelas atau volume salah hitung, maka hasil penawaran bisa jauh dari kenyataan.

PPK harus memastikan seluruh gambar dan volume sudah diverifikasi oleh tenaga teknis atau konsultan perencana. Dokumen yang rapi akan menghasilkan penawaran yang kompetitif dan memudahkan proses evaluasi.

Memahami Skor Penilaian Otomatis di Mini Kompetisi

Salah satu fitur unggulan Mini Kompetisi adalah penilaian otomatis oleh sistem. Dalam E-Katalog Versi 6, penentuan pemenang dilakukan berdasarkan dua komponen utama: harga penawaran (50%) dan nilai Produk Dalam Negeri atau PDN (50%).

Untuk pekerjaan konstruksi, aspek PDN menjadi sangat penting karena banyak material dan jasa yang dapat diserap dari industri lokal. PPK perlu memastikan bahwa nilai PDN dari penyedia valid dan sesuai dengan ketentuan Kementerian Perindustrian.

Sistem akan menghitung skor akhir secara otomatis dan menampilkan hasilnya dalam bentuk papan peringkat digital. Meskipun otomatis, PPK tetap berkewajiban melakukan verifikasi manual terhadap dokumen teknis sebelum menetapkan pemenang resmi.

Kiat Menghindari Kendala dalam Mini Kompetisi Konstruksi

Banyak Mini Kompetisi Konstruksi gagal bukan karena sistemnya rumit, melainkan karena kesalahan kecil dari sisi manusia.

Kesalahan umum yang sering terjadi adalah spesifikasi yang terlalu sempit, nilai pagu yang tidak realistis, atau dokumen teknis yang belum lengkap. PPK juga sering kali terburu-buru membuat paket tanpa memastikan semua data sudah terintegrasi dengan RUP dan dokumen perencanaan.

Kunci untuk menghindari kendala ini adalah disiplin administrasi dan koordinasi lintas tim. PPK, pejabat pengadaan, dan staf teknis harus bekerja secara sinergis agar seluruh data dan dokumen saling melengkapi. Dengan demikian, sistem Mini Kompetisi akan berjalan mulus dan hasilnya bisa dipertanggungjawabkan.

Integritas dan Transparansi dalam Proses

Mini Kompetisi Konstruksi membawa semangat baru dalam transparansi pengadaan. Semua proses dilakukan secara digital, mulai dari undangan, penawaran, hingga evaluasi. Artinya, setiap langkah terekam otomatis di sistem dan bisa diaudit kapan saja.

PPK perlu menjaga integritas dengan tidak mengubah data di luar sistem atau menambahkan syarat yang tidak sesuai ketentuan. Segala keputusan harus didasarkan pada dokumen resmi dan hasil penilaian sistem.

Dengan mematuhi prinsip ini, pengadaan konstruksi tidak hanya cepat dan efisien, tetapi juga bersih dan bebas dari potensi penyimpangan.

Manfaat Mini Kompetisi Konstruksi bagi Pemerintah dan Penyedia

Penerapan Mini Kompetisi di bidang konstruksi memberikan manfaat besar bagi kedua belah pihak.

Bagi pemerintah, sistem ini mempercepat proses belanja modal dan meningkatkan efisiensi anggaran. Proyek-proyek dapat dimulai lebih cepat, dan nilai efisiensi dari hasil kompetisi langsung terlihat dalam perbandingan penawaran.

Bagi penyedia, Mini Kompetisi membuka kesempatan yang lebih luas untuk ikut serta tanpa harus melewati proses tender manual yang panjang. Semua penyedia yang memenuhi kriteria bisa ikut bersaing dengan modal kecepatan dan ketepatan penawaran.

Dengan demikian, Mini Kompetisi menciptakan ekosistem pengadaan yang lebih dinamis, kompetitif, dan terbuka bagi semua pihak.

Menyiapkan SDM Pengadaan yang Paham Digital

Tidak bisa dipungkiri, keberhasilan Mini Kompetisi Konstruksi juga bergantung pada kesiapan sumber daya manusia. ASN yang terlibat dalam pengadaan harus memahami sistem E-Katalog dan memiliki kemampuan teknis untuk menyusun dokumen digital dengan benar.

LKPP dan lembaga pelatihan seperti LPKN berperan penting dalam memberikan pelatihan teknis dan simulasi sistem kepada para PPK dan pejabat pengadaan. Dengan peningkatan kapasitas SDM, risiko kesalahan administrasi bisa diminimalkan, dan kualitas pelaksanaan kompetisi akan meningkat.

Penutup

Mini Kompetisi Konstruksi bukan sekadar fitur digital dalam E-Katalog, melainkan simbol profesionalisme baru dalam pengadaan pemerintah.

Melalui sistem ini, proses pengadaan menjadi lebih cepat, kompetitif, dan akuntabel. Namun di balik itu semua, keberhasilan tetap bergantung pada manusia — sejauh mana PPK mampu merencanakan dengan matang, menyusun paket dengan cermat, dan menjaga integritas selama proses berjalan.

Rahasia sukses Mini Kompetisi Konstruksi bukan terletak pada teknologi, tetapi pada perpaduan antara ketelitian administratif, kemampuan teknis, dan komitmen terhadap prinsip transparansi.

Dengan pemahaman yang baik dan pelaksanaan yang disiplin, Mini Kompetisi akan menjadi alat nyata dalam mewujudkan pengadaan konstruksi yang cepat, efisien, dan berdampak langsung pada pembangunan yang merata di seluruh Indonesia.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *